SMU Mana yang Banyak Preman dan Sering Tawuran?


Foto Tawuran dari TempoKetika kerja di daerah Blok M dan sholat jum’at di Mall Blok M Plaza yang berada di samping satu sekolah, hampir tiap Jum’at sekolah yang di samping itu tawuran terus. Hebatnya tawuran sering berlangsung justru saat orang lagi sholat. Suara ribut terdengar hingga ke lantai atas di tempat orang sholat.
Ada lagi teman cerita bahwa keponakan temannya takut ke sekolah karena di sekolah tersebut banyak geng yang memeras siswa lainnya. Sehari bisa diperas sampai Rp 10 ribu. Setiap mau sekolah anak itu sering menangis.
Tak jarang tawuran sampai menimbulkan korban jiwa akibat sabetan pedang atau pun clurit. Anehnya pelakunya jarang tertangkap dan dihukum karena masih sekolah.
Sebenarnya pihak sekolah bisa meminimalisir hal di atas dengan menaruh CCTV. Polisi juga harus menindak pelaku pemerasan dan penganiayaan berdasarkan hukum yang berlaku.
Pihak sekolah harus tegas menegur siswa yang badung, memanggil orang tuanya, dan jika perlu mengeluarkannya dari sekolah. Jangan sampai nila setitik rusak susu sebelanga. Gara2 satu anak badung, yang lain jadi ikut2an dan akhirnya banyak anak ketakutan ke sekolah.
Ada pun untuk anak2 badung, harusnya ada sekolah khusus untuk mereka dengan penekanan akhlak, agama dan moralitas. Siapa tahu bisa berubah.
Kurikulum pendidikan sekarang memang sudah overloaded. Anak kelas 1 SD sekarang bukan cuma belajar babibubebo dan berhitung. Tapi juga Bahasa Inggris, IPA, IPS, dsb. Sayangnya pelajaran agama/akhlak sangat minim. Tak heran anak SMP/SMA sekarang biasa memanggil temannya dengan sebutan monyek/anjing dalam gurauan mereka. Kata-kata kotor/kurang ajar seperti itulah yang sering jadi penyebab timbulnya tawuran.
Harusnya pelajaran agama itu 2×2 jam setiap minggu dan akhlak 1×2 jam per minggu. Jadi mereka tahu cara berperilaku yang baik dan seharusnya. Jika perlu, bulan Puasa diliburkan sebulan penuh sehingga mereka bisa mengaji atau belajar agama seperti dulu sebelum Daoed Yoesoef menjadi Menteri P dan K.
Foto Control Room CCTV. Kalau ini kecanggihan. Untuk SMU 1 TV dan alat perekam sudah cukup - http://www.teignbridge.gov.ukSering pihak sekolah dan polisi takut bertindak jika ternyata yang terlibat adalah anak pejabat. Sehingga pemerasan dan tawuran terjadi berulang-kali tanpa ada sanksi.
Saat ini banyak sekolah-sekolah yang dulu favorit mengenakan uang masuk dan iuran yang tinggi. Akibatnya yang masuk sekolah bukan lagi orang-orang yang pintar, tapi orang yang bodoh/preman selama bisa bayar bisa masuk sekolah tersebut. Sebaliknya orang yang pintar tapi tak ada uang, tidak bisa.
Sebagai contoh di satu sekolah negeri yang dulu favorit, tapi sekarang sering tawuran dan banyak preman, pihak sekolah meminta uang Rp 8 juta untuk uang masuk dan Rp 350 ribu/bulan untuk iuran. Teman saya yang pas-pasan menawar uang masuk jadi Rp 2 juta dan dicicil serta iuran jadi Rp 300 ribu/bulan. Tak heran jika sekolah tersebut lebih banyak premannya ketimbang siswa yang berprestasi.
Nah ada yang mau sharing sekolah mana saja yang sering tawuran dan banyak premannya?

Posted by
A. Bayu Aksar

More

Tawuran di SMA dari Budaya, Dendam, Alumni hingga Provokator

Jakarta - Tawuran di sekolah-sekolah menengah di Jakarta ini dipicu berbagai faktor. Dari budaya permusuhan yang melahirkan dendam, hingga campur tangan pihak ketiga seperti alumni dan provokator.

Kesimpulannya, tawuran di kedua sekolah karena ada budaya permusuhan yang turun temurun, dari kakak kelas. Ada paradigma yang salah, ada semacam dendam, ini yang harus dipecahkan oleh Kemendikbud dan Disdik. Harus dibuat suasana yang lebih ceria dan penuh kebersamaan," demikian dikatakan tokoh Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Seto Mulyadi. 

Hal itu dikatakan Kak Seto, panggilan akrab Seto Mulyadi, usai pertemuan dengan pihak Polres Jakarta Selatan (Jaksel) yang diikuti juga oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di Mapolres Jaksel, Jalan Wijaya II, Jakarta, Selasa (2/10/2012).

Pada dasarnya, imbuh Kak Seto, para siswa yang terlibat tawuran ini adalah korban dari lingkungan yang tidak kondusif. Lingkungan ini membuat mereka tidak bisa mengembangkan potensi di bidang akademis. 

"Jadi ada semacam permusuhan, yang turun temurun. Itu tanpa sadar diciptakan oleh campur tangan dari pihak ketiga. Seperti alumni, provokator, ini yang harus diurai," kata Kak Seto.

Dari 2 kasus tawuran pelajar baru-baru ini yakni antara SMA 70 dan SMA 6 di kawasan Bulungan dan SMA Kartina Zeni dan SMA Yayasan Karya 66 (Yake) sama-sama solidaritas untuk membela kelompoknya. 

"Intinya dari 2 kasus itu, terjebak dalam spontanitas untuk membela kelompoknya. Memang seharusnya ada sanksi, dari Kementerian kepada pihak sekolah, mulai dari Kepsek, guru dan Komite Sekolah," ucap Kak Seto.

Posted by
A. Bayu Aksar

More

SMU VS Wartawan


Well,… kasus tawuran yang terjadi antara pelajar SMU 6 vs wartawan,… mestinya tidak perlu terjadi jika memahami tugas wartawan …!!! Namanya wartawan itu keberadaannya dilindungi undang-undang… jika meliput di ruang publik ya sah-sah saja …!!! Yaaagh… juragan bisa memahami… coz mengetahui persis apa yang dilakukan oleh wartawan … juga pernah sebagai pelajar SMA 70 tetangga SMU 6 …!!! Kalau mau membahas… ya dicari dulu pangkal / awal dari persoalan tawuran itu antara pelajar vs wartawan …!!! :D
Awal mula terjadi gegeran… karena terjadi pemukulan dan perampasan kaset wartawan oleh pelajar …!!! Naagh yang perlu dicaritahu adalah kenapa wartawan yang meliput kudu dirampas hasil kerjanya …??? Sepanjang masih dilingkungan publik… yaaa nggak boleh dirampas …!!! Misalnya aja neeegh,… wartawan sak jagad nunggu didepan rumah juragan… yooo monggo saza… mau bawa tele ukuran berapa kek… yo monggo saja …!!! Lha wong berdiri di jalan khan punya publik … ya thooo …???
Lain kalau wartawan nya memaksa masuk… sampe ke rumah juragan.. sampai mau moto juragan mau mandi… yooo jenengeee kebangetan …!!! Lha pertanyaan selanjutnya kenapa kok kaset harus dirampas …??? Apapun alasannya nggak ada hak untuk mengambil / merampas punya orang semau nya… !!! Yaaagh kalau nggak mau diphoto atau terekam kaset… ya jangan berantem… gampang thooo …!!! Jangan dikaburkan setelah pasca perampasan… ada wartawan yang demo dan bentrok lanjutan… !!! Kadang juragan nggak mengerti… setelah memukul wartawan… kok malah bangga koar-koar di twitter… !!! Inget para pelajar ini…. besok-besok akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa… mau dibawa kemana ini bangsa… ??? Mungkin ini akan menjadi homework bagi semua pihak… baik sekolah, para orang tua ataupun masyarakat… !!! :D

Posted by
A. Bayu Aksar

More

8 Kasus Tawuran Antar Pelajar Di Tahun 2012

8 Kasus Tawuran Antarpelajar Di Tahun 2012
meredeka.com



Tawuran antarpelajar kerap terjadi hampir setiap tahunnya. Tak hanya menimbulkan korban luka, tapi juga korban jiwa. Di bulan September ini misalnya, dua siswa SMA telah tewas akibat aksi tawuran tersebut.
Berikut data kasus tawuran antarpelajar dari Polda Metro Jaya di sepanjang tahun 2012:
19 April 2012: Tawuran pecah di Jalan Matraman Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Guntur (17) dan Harzan Saparta (17) adalah korban luka akibat aksi tersebut.
3 Mei 2012: Satu pelajar meninggal dunia, sementara dua diantara luka-luka akibat tawuran pelajar di Jalan Ampera RT 03/05 Bekasi Timur, Kota Bekasi. Korban tewas diketahui bernama Bayu Dwi Kurniawan (16). Ia tewas dengan luka bacok di tubuhnya, sedangkan dua rekannya Rahman Aldi (17), dan Muhaji Adenan (16) dirawat akibat terkena lemparan batu.
29 Mei 2012: Tawuran pelajar SMAN 6 & SMAN 70 pecah di Bundaran Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tidak ada korban jiwa dalam tawruan ini, namun lima siswa dari SMAN 6 & dua dari SMAN 70 mengalami luka-luka. Polisi berhasil meringkus para pelajar yang terlibat tawuran tersebut. Selain itu, polisi juga mengamankan barang bukti berupa senjata tajam.
26 Juli 2012: Tawuran siswa SMA Budi Utomo dengan Santa Yoseph di Jalan Kramat Raya Senen, Jakarta Pusat. Korban bernama Roni (28). Ia mengalami luka bakar di bagian kaki kanannya akibat lemparan air keras.
29 Agustus 2012: Siswa SMP bernama Jasuli (16) meninggal dunia akibat tawuran di Stasiun Panjang Buaran Duren Sawit, Jakarta Timur. Jasuli tewas tersambar kereta Api yang melintas. Ia yang sebelumnya terlibat tawuran dengan pelajar lain itu tak menyadari akan kedatangan kereta api. Alhasil ia pun tersambar dan terseret hingga tewas.
12 September 2012: Tawuran kembali merenggang nyawa, kali ini pelajar kelas SMK Baskara Pancoran Mas Depok bernama Didik Triyuda. Ia tewas setelah terlibat tawuran di Jalan Raya Sawangan perempatan Masjid Mampang Pancoran Mas Depok.
24 September 2012: Tawuran pelajar SMAN 6 & SMAN 70 di Bundaran Bulungan, Blok M Plaza Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Korban pelajar dari siswa SMAN 6, Alawi Yusianto tewas dalam aksi tawuran tersebut. Sementara itu rekannya Ramdan Dimas dan Diaz Fahlevi mengalami luka-luka. Alawi tewas dibacok  oleh Fitra Rahmadhani, siswa dari SMAN 70.
26 September 2012: Tawuran yang merengut nyawa Deni Januar (27), siswa kelas XII SMA Yayasan Karya 66 (Yake). Ia tewas setelah dibacok di bagian perut oleh siswa STM Kartika Zeni (KZ) di Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu siang.

Posted by
A. Bayu Aksar

More

Pasca Tawuran Mahasiswa, Polisi Temukan 2,2 Kg Ganja & Sajam di UNM

Add caption

Foto: m nur abdurrahman/detikcom
Makassar - Dalam penyisiran di kampus Universitas Negeri Makassar (UNM), polisi menemukan 2,2 kg ganja kering, senjata tajam, dan botol berbau minuman keras. Belum diketahui pemilik kedua barang tersebut.

Ganja ditemukan dalam bungkusan-bungkusan plastik, Jumat (12/10/2012). 2 Kg di antaranya ditemukan di lantai 2 Fakultas Seni dan Desain (FSD), satu ons di bak mandi, dan sisanya di plafon. 

Sementara senjata tajam ditemukan di beberapa ruangan. Barang-barang tersebut kemudian dibawa ke Mapolrestabes Makassar.

Tiga kompi yang terdiri dari Dalmas Polrestabes Makassar dan Brimob Polda Sulselbar menyisir kampus yang terletak di Parangtambung Makassar tersebut sejak pukul 08.00 WITA. Mereka mengecek FSD, Fakultas Bahasa, dan Fakultas Teknik. 

Hanya FSD yang kondisinya berantakan. Tidak saja ruangan dan kendaraan mahasiswa yang rusak karena dijadikan sasaran serangan mahasiswa Fakultas Teknik, tapi juga gazebo kantin.

Usai penyisiran, polisi berjaga di kampus. Kondisi kampus sepi, karena diliburkan oleh pihak rektorat untuk waktu yang tidak ditentukan.

Tawuran yang melibatkan ratusan mahasiswa FSD dan FT terjadi sekitar pukul 15.00 WITA, Kamis (11/10/2012) kemarin. Empat mahasiswa dilarikan ke RS Haji karena terluka kena anak panah.

Meski sempat reda, tawuran terjadi lagi di dekat IGD RS Haji beberapa jam kemudian. Saat itu, para mahasiswa tengah menjenguk korban di RS. Dua orang tewas, yakni Harianto, mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2008 dan Rezky Munandar, mantan mahasiswa Fakultas Teknik UNM angkatan 2008 yang kini terdaftar di Universitas Islam Makassar (UIM).

Sumber://http://news.detik.com

Posted by
A. Bayu Aksar

More

Salah satu Penyebab Utama Tawuran


Tawuran yang menyebabkan korban meninggal sedang mendapat sorotan banyak. Sudah banyak yang mengulas tentang penyebab masalah ini. Saya akan mencoba mengulas dari sisi yang lain bahwa salah satu penyebab utama dari tawuran ini adalah karena konsep pendidikan nasional (dlm hal ini kurikulum) yang kurang tepat.
Kurikulum Pendidikan Nasional sangat mengutamakan Output yang dilihat dari nilai mata pelajaran dan tingkat kelulusan. Dan pada saat yang sama, menomer-belakangkan pendidikan karakter itu sendiri.
Dari SD (bahkan TK) anak2 sudah digedor utk mengejar target: harus bisa baca, tulis, berhitung, hapal ayat alquran, doa2 dll. Anak kelas 6 yg relatif masih kecil harus belajar siang malam, ikut bimbel dll. Buat apa? Hanya utk mengejar nilai UN dan tingkat kelulusan. Pada saat yang sama, kita masih mendengar contek-menyontek pada saat UN masih menjadi berita yang marak. Belajar kisi2 menjadi hal yang lumrah utk mengejar nilai UN tinggi.
Anak2 bukanlah profesional yang dituntut dari hasil pekerjaannya. Mereka adalah bibit yg bakal menjadi professional di masa datang. Seharusnya, sebagai bibit mereka harus dirawat dan di”groom” spy kelak menjadi professional yg kuat.
Perawatan merupakan proses. Proses utk membentuk karakter yang kuat. Bagaimana karakter yg kuat itu: jujur, persisten (tdk mdh menyerah), percaya diri, membantu yg lemah, kemampuan beradaptasi, dll.
Dengan karakter yang kuat ini, segala macam tantangan akan lebih mudah dihadapi. Sebagai profesional saat ini, kekuatan karakter bagi saya lebih penting drpd ilmu yg sy dpt di sekolah di dalam menyelesaikan masalah2 baik di kantor ataupun keluarga/masyarakat.
Pembangunan karakter ini harus sdh dimulai dari kecil. Sejak TK/SD, sekolah harus menanamkan kejujuran, kemandirian di kalangan anak2. Sehingga pada saat mereka remaja karakter itu sudah mulai kelihatan. Dan insya Allah, masalah2 sosial spt narkoba, tawuran dll akan lbh sedikit. Kalau bibit yang masuk ke SMP dan kemudian SMA sudah berkarakter yang baik, anak2 ini akan lebih mampu mengatasi problem yang mereka hadapi termasuk di dalamnya kenakalan2 remaja, narkoba dll.
Pada saat yang sama, keilmuan (math, science, dll) diberikan sbg pemenuhan tantangan bagi mereka. Bukan sbg stand alone materi yg terpisah. Anak2 harus dididik utk memecahkan masalah dan bukan sekedar menghapal atau berhitung. Pemecahan masalah ini merupakan hasil peng-integrasi-an secara menyeluruh materi2 di sekolah. Soal2 matematika bukan hanya 1+1 atau 1025 x 577, tapi bagaimana memecahkan masalah yang lebih aplikatif kpd kehidupan sehari-hari.
Ki Hajar Dewantoro sbg bapak pendidikan nasional sangat menekankan pendidikan karakter ini (Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tutwuri Handayani). Untuk itu sudah saatnya kita kembalikan tujuan pendidikan nasional ini utk mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk karakter bangsa ini sbg bangsa yang tangguh, jujur, suka bekerja sama dan mandiri.
Saya berharap para pemimpin bangsa ini melihat bahwa pendidikan bukan hanya sekedar nilai UN dan tingkat kelulusan. Tapi lebih kepada bagaimana anak2 kita nanti menjadi profesional yang tangguh, mandiri, jujur dan berkarakter. Mereka inilah yang akan “menghidupi” kita pada saat kita tua nanti.

Posted by
A. Bayu Aksar

More

Cara Menaggulangi Tawuran


Minggu-minggu lalu suasana kota Pekanbaru sangat mencekam. Gank motor yang didominasi pelajar mengganas, menyerang warga layaknya pelaku kriminal. Persaingan gank tidak lagi menyebabkan perkelahian antar gank, tapi sudah kearah balas dendam yang membabi buta. Mereka tidak sekedar melakukan tawuran demi gengsi, melainkan sudah berkembang ke pencurian dan perampokan di sekolah-sekolah. Tawuran bukan lagi masalah kota besar atau kota kecil, melainkan sudah menjadi masalah kepemudaan kronis di negara kita.
Televisi-televisi menunjukkan perhatian dengan berkali-kali mengundang narasumber yang kompeten di bidang sosiologi, psikologi dan pendidikan untuk membahas masalah ini. Ada yang menjelaskan ini didasari karena pencarian jati diri remaja yang berada dalam masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. Namun tawuran antar mahasiswa hingga menyebabkan dua orang tewas di Makassar setidaknya menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi dan usia dewasa tidak bisa mencegah terjadinya tawuran.
Jika pelajar berkelahi, yang pertama disorot adalah sistem pendidikan. Tapi kita harus adil melihat bahwa tawuran sering kali terjadi ketika remaja itu berada di “ruang antara”, yaitu antara sekolah dan rumah. Sudah tidak di sekolahan, tapi masih pakai seragam dan belum sampai rumah. Jadi tak guna saling menyalahkan karena dalam

Posted by
A. Bayu Aksar

More
nn
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / Kedamaian

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger