Ada lagi teman cerita bahwa keponakan temannya takut ke sekolah karena di sekolah tersebut banyak geng yang memeras siswa lainnya. Sehari bisa diperas sampai Rp 10 ribu. Setiap mau sekolah anak itu sering menangis.
Tak jarang tawuran sampai menimbulkan korban jiwa akibat sabetan pedang atau pun clurit. Anehnya pelakunya jarang tertangkap dan dihukum karena masih sekolah.
Sebenarnya pihak sekolah bisa meminimalisir hal di atas dengan menaruh CCTV. Polisi juga harus menindak pelaku pemerasan dan penganiayaan berdasarkan hukum yang berlaku.
Pihak sekolah harus tegas menegur siswa yang badung, memanggil orang tuanya, dan jika perlu mengeluarkannya dari sekolah. Jangan sampai nila setitik rusak susu sebelanga. Gara2 satu anak badung, yang lain jadi ikut2an dan akhirnya banyak anak ketakutan ke sekolah.
Ada pun untuk anak2 badung, harusnya ada sekolah khusus untuk mereka dengan penekanan akhlak, agama dan moralitas. Siapa tahu bisa berubah.
Kurikulum pendidikan sekarang memang sudah overloaded. Anak kelas 1 SD sekarang bukan cuma belajar babibubebo dan berhitung. Tapi juga Bahasa Inggris, IPA, IPS, dsb. Sayangnya pelajaran agama/akhlak sangat minim. Tak heran anak SMP/SMA sekarang biasa memanggil temannya dengan sebutan monyek/anjing dalam gurauan mereka. Kata-kata kotor/kurang ajar seperti itulah yang sering jadi penyebab timbulnya tawuran.
Harusnya pelajaran agama itu 2×2 jam setiap minggu dan akhlak 1×2 jam per minggu. Jadi mereka tahu cara berperilaku yang baik dan seharusnya. Jika perlu, bulan Puasa diliburkan sebulan penuh sehingga mereka bisa mengaji atau belajar agama seperti dulu sebelum Daoed Yoesoef menjadi Menteri P dan K.
Saat ini banyak sekolah-sekolah yang dulu favorit mengenakan uang masuk dan iuran yang tinggi. Akibatnya yang masuk sekolah bukan lagi orang-orang yang pintar, tapi orang yang bodoh/preman selama bisa bayar bisa masuk sekolah tersebut. Sebaliknya orang yang pintar tapi tak ada uang, tidak bisa.
Sebagai contoh di satu sekolah negeri yang dulu favorit, tapi sekarang sering tawuran dan banyak preman, pihak sekolah meminta uang Rp 8 juta untuk uang masuk dan Rp 350 ribu/bulan untuk iuran. Teman saya yang pas-pasan menawar uang masuk jadi Rp 2 juta dan dicicil serta iuran jadi Rp 300 ribu/bulan. Tak heran jika sekolah tersebut lebih banyak premannya ketimbang siswa yang berprestasi.
Nah ada yang mau sharing sekolah mana saja yang sering tawuran dan banyak premannya?

0 komentar:
Posting Komentar