Cara Menaggulangi Tawuran


Minggu-minggu lalu suasana kota Pekanbaru sangat mencekam. Gank motor yang didominasi pelajar mengganas, menyerang warga layaknya pelaku kriminal. Persaingan gank tidak lagi menyebabkan perkelahian antar gank, tapi sudah kearah balas dendam yang membabi buta. Mereka tidak sekedar melakukan tawuran demi gengsi, melainkan sudah berkembang ke pencurian dan perampokan di sekolah-sekolah. Tawuran bukan lagi masalah kota besar atau kota kecil, melainkan sudah menjadi masalah kepemudaan kronis di negara kita.
Televisi-televisi menunjukkan perhatian dengan berkali-kali mengundang narasumber yang kompeten di bidang sosiologi, psikologi dan pendidikan untuk membahas masalah ini. Ada yang menjelaskan ini didasari karena pencarian jati diri remaja yang berada dalam masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. Namun tawuran antar mahasiswa hingga menyebabkan dua orang tewas di Makassar setidaknya menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi dan usia dewasa tidak bisa mencegah terjadinya tawuran.
Jika pelajar berkelahi, yang pertama disorot adalah sistem pendidikan. Tapi kita harus adil melihat bahwa tawuran sering kali terjadi ketika remaja itu berada di “ruang antara”, yaitu antara sekolah dan rumah. Sudah tidak di sekolahan, tapi masih pakai seragam dan belum sampai rumah. Jadi tak guna saling menyalahkan karena dalam
http://burselfwoman.comkondisi demikian masyarakat harus bersama-sama menjadi pagar hidup bagi para remaja itu agar selalu berada didalam lingkungan yang baik.
Contoh kecil misalnya, kita melihat remaja dengan seragam sekolah pada jam 09.00 masih nongkrong sambil merokok di warung atau berduaan berboncengan dengan pacar. Berapa dari kita menegur melarang mereka merokok? Berapa dari kita yang menegur supaya mereka segera berangkat ke sekolah atau pulang ke rumah? Berapa dari kita yang setidaknya bertanya mengapa mereka berada disana, bukannya disekolahan? Saya rasa kita tidak ada yang bertanya. Paling-paling kita hanya memandang dari jauh sambil menggeleng-gelengkan kepala.
It takes a village to raise a child, kata Hillary Clinton dalam bukunya. Karena untuk membesarkan anak memang tidak hanya diperlukan orangtua dirumah dan guru di sekolah, tapi seluruh lapisan masyarakat. Perhatian-perhatian pada anak-anak yang bukan anak kita atau anak yang kenal tidak lagi ada. Bukan urusanku, begitu alasan kita. Padahal misalnya kita mau bertanya mengapa di jam sekolah anak-anak itu masih nongkrong diwarung, kita sudah mengisi kekosongan yang tidak dapat dipenuhi orang tua dan guru. Bahkan kita justru takut pada anak-anak itu. “Ntar dipalak, loh!”
Penegakan hukum yang tidak tegas membuat anak-anak tidak lagi peduli mana yang termasuk kenakalan remaja dan mana kriminal. Maka ketika tawuran mereka membawa pecut, ikat pinggang bergerigi, ketapel besar sampai samurai. Mereka tidak lagi peduli apakah itu akan membuat lawannya babak belur atau tewas. Toh selama ini belum ada remaja yang dihukum berat karena tawuran. Tawuran masih dianggap sebagai kenakalan remaja meski sudah masuk ke ranah kriminal.
Saat ini sudah bukan waktunya untuk memberi banyak toleransi pada anak-anak pelaku tawuran. Orangtua harus tahu benar jadwal pelajaran sekolah anaknya, termasuk extrakulikuler. Dengan adanya teknologi komunikasi, tidak ada alasan bagi wali kelas untuk tidak bisa dihubungi orangtua baik melalui telepon langsung maupun sms. Sudah tidak jamannya lagi orangtua harus sowan ke guru untuk bertanya keseharian murid, karena terlalu lama dan akan tertinggal dengan dinamika kegiatan di anak. Wali kelas harus berfungsi penuh sebagai penghubung antara orangtua, murid dan sekolah. Jam kosong harus ditiadakan. Tidak ada lagi alasan guru rapat, guru ada acara di dinas, habis ujian, atau pelajaran bebas. Setiap guru yang tidak bisa hadir di kelas harus ada pengganti. Jika kekurangan guru, bisa dilakukan penggabungan dengan kelas lain untuk melakukan kegiatan bersama, misalnya diskusi, main musik, olahraga atau membaca di perpustakaan. Anak-anak harus tetap disekolah sampai jam sekolah selesai.
Kegiatan antar sekolah harus diadakan lebih sering, terutama di lokasi yang berdekatan. Misinya adalah untuk menjalin keakraban, maka hindari kegiatan yang bersifat kompetitif. Mereka bisa bersama-sama melakukan kegiatan sosial, amal atau seni. Perbedaan status sekolah yang sudah digariskan Dinas Pendidikan kadang menjadi sumber kesenjangan dan memunculkan rasa permusuhan. Kegiatan bersama harus didampingi pengurus sekolah dengan baik agar mengarah ke peniadaan kesenjangan pergaulan.
Sekolah dan orangtua harus menyepakati peraturan-peraturan yang menyangkut perkelahian, misalnya jika tiga kali terlibat perkelahian dengan teman sekelas maka tidak naik kelas atau jika terlibat tawuran dengan sekolah lain maka akan dikeluarkan dari sekolah. Jika tidak tegas, akibatnya akan seperti tawuran SMAN 70 dan SMAN 6 Jakarta. Meski pernah tidak naik kelas karena berkelahi tapi seharusnya dikeluarkan saja dari sekolah ketika terlibat penganiayaan berat sebelumnya. Pada saat dia tidak diproses selayaknya pelaku kriminal pada waktu terlibat penganiayaan berat, tinggal menunggu waktu saja bagi dia untuk membunuh orang pada akhirnya.
Saya punya teman yang sangat nakal ketika SMA dulu namun sekarang sudah insyaf dan menjadi pejabat disuatu bank. Yang dilakukan keluarganya pada waktu berdasarkan ceritanya adalah mengungsikannya jauh dari ganknya. Dia sangat terpukul jauh dari keluarga, apalagi kemudian ayahnya sakit. Apapun yang dilakukan remaja, meski sudah memukuli orang lain hingga babak belur, tetap ada rasa sayang untuk menghukum terlalu berat. Kita masih beranggapan dia tak paham resiko perbuatannya. Kita tetap peduli dengan masa depannya, meski kita juga paham dia sudah menghilangkan masa depan orang lain dan masa depan keluarga lain. Karena itu menghukum dengan keras atas nama kasih sayang harus dilakukan.
Bagi yang sudah mulai memukuli orang, mencuri atau memalak harus diproses sebagai pelaku kriminal. Namun demikian, jika terbukti bersalah, mereka tidak boleh dijebloskan ke penjara dewasa. Pemerintah harus merevitalisasi penjara anak-anak agar anak-anak ini mendapatkan pendampingan yang memadai sehingga mereka ibarat dipisahkan dari gank dan keluarganya seperti teman saya tadi untuk berkontemplasi dan selanjutya bertobat. Dalam penjara anak juga harus disediakan fasilitas belajar yang memadai agar sekeluarnya dari penjara bisa bermanfaat bagi masyarakat dan membayar kesalahannya dengan menjadi manusia yang berguna bagi orang banyak.
Tulisan ini disertakan dalam Kontes Unggulan Indonesia Bersatu

0 komentar:

Posting Komentar

nn
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / Kedamaian

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger